Wednesday, March 1, 2017

7 TIPS MELUNASI HUTANG RIBA

7 Tips Melunasi Hutang Riba

1. Bertaubat dari riba

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu‘anhuma , beliau mengatakan:

ﻟﻌﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠّﻢ : ﺁﻛﻞ ﺍﻟﺮﺑﺎ، ﻭﻣﻮﻛﻠﻪ،ﻭﻛﺎﺗﺒﻪ،ﻭﺷﺎﻫﺪﻳﻪ ”، ﻭﻗﺎﻝ : “ ﻫﻢ ﺳﻮﺍﺀ ”

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, yang mencatat, dan dua saksi” dan beliau berkata : mereka semua sama (HR. Muslim).

2.Perbanyak istighfar

Allah subhanahu wata'ala berfirman

ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﺍﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻭﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﺇِﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﻏَﻔَّﺎﺭًﺍ ‏(10 ‏) ﻳُﺮْﺳِﻞِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻣِﺪْﺭَﺍﺭًﺍ‏(11 ‏) ﻭَﻳُﻤْﺪِﺩْﻛُﻢْ ﺑِﺄَﻣْﻮَﺍﻝٍ ﻭَﺑَﻨِﻴﻦَ ﻭَﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَﻜُﻢْ ﺟَﻨَّﺎﺕٍ ﻭَﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻧْﻬَﺎﺭًﺍ ‏(12‏)

“ Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-
sungai. ” (QS. Nuh: 10-12)

3. Jual aset rumah dan kendaraan

Dari Abu Hurairah Rhadiyallahu'anhu Rasulullah Shallallahu 'alaihiwasallam bersabda

ﻣَﻦْ ﺃَﺧَﺬَ ﺃَﻣْﻮَﺍﻝَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺃَﺩَﺍﺀَﻫَﺎ ﺃَﺩَّﻯ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ
ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺧَﺬَ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺇِﺗْﻠَﺎﻓَﻬَﺎ ﺃَﺗْﻠَﻔَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ

Barangsiapa yang mengambil harta
manusia (berhutang) disertai maksud
akan membayarnya maka Allah akan
membayarkannya untuknya, sebaliknya
siapa yang mengambilnya dengan
maksud merusaknya (merugikannya)
maka Allah akan merusak orang itu”.( HR
Bukhari 2212)

4. Lebih giat bekerja untuk memberi nafkah keluarga

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻳَﻮْﻡٍ ﻳُﺼْﺒِﺢُ ﺍﻟْﻌِﺒَﺎﺩُ ﻓِﻴﻪِ ﺇِﻻَّ ﻣَﻠَﻜَﺎﻥِ ﻳَﻨْﺰِﻻَﻥِ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺃَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﻋْﻂِ ﻣُﻨْﻔِﻘًﺎ ﺧَﻠَﻔًﺎ ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻵﺧَﺮُ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﻋْﻂِ ﻣُﻤْﺴِﻜًﺎ ﺗَﻠَﻔًﺎ

“ Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah) .” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no.1010)

5. Bersikap lebih amanah

Dari Abu Hurairah Rhadiyallahu'anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihiwasallam pernah bersabda

ﺃﺩ ﺍﻻﻣﺎﻧﺔ ﺍﻟﻰ ﻣﻦ ﺃﺗﻤﻨﻚ ﻭﻻ ﺗﺨﻦ ﻣﻦ ﺧﺎﻧﻚ

Tunaikan amanah kepada orang yang
memberikan kepercayaan kepadamu dan jangan engkau mengkhianati orang yang telah mengkhianatimu (HR.Abu Dawud)

6. Bersikap hidup lebih sederhana dan qana'ah

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma , ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻗَﺪْ ﺃَﻓْﻠَﺢَ ﻣَﻦْ ﺃَﺳْﻠَﻢَ, ﻭﺭُﺯِﻕَ ﻛَﻔَﺎﻓًﺎ, ﻭَﻗَﻨَّﻌَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﺁﺗَﺎﻩُ

“ Sungguh beruntung orang yang masuk
Islam, diberi rezeki yang cukup, dan diberikan oleh Allah sikap qana’ah (rasa cukup) terhadap pemberian-Nya” (HR. Tirmidzi)

7. Perbanyak do'a yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻰ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺄْﺛَﻢِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻐْﺮَﻡِ

Allahumma inni a’udzu bika minal
ma’tsami wal maghrom

Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari perbuatan dosa dan sulitnya hutang).” (HR. Bukhari no. 832 dan Muslim no. 589).

Semoga bermanfaat, Hanya Allah yang memberi taufiq dan hidayah.

--
Dikirim dari smartphone OPPO saya

Monday, February 27, 2017

Mati Sesuai Hoby atau Kebiasaan Hidup Seseorang

Seseorang Meninggal Sesuai Kebiasaan Hidupnya

Meninggalnya diri seseorang secara otomatis akan menghentikan semua aktivitas organ di dalam tubuhnya. Tak hanya itu saja, badan dan kaki serta tangan pun mendadak menjadi dingin seiring rohnya dicabut oleh malaikat.
Memang begitulah tanda umum manusia yang meninggal dunia. Meski begitu tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah Pemilik Alam Semesta. Ia akan memperlihatkan kepada manusia apa yang menurut mereka sulit diterima dengan akal sehat.
Seorang dokter berkebangsaan Arab Saudi bernama Dr dr Khalid bin Abdul Aziz Al Jabir dalam bukunya yang berjudul “Musyahadat Thabib Qashash Waqi’iyah” menulis berbagai kejadian yang dialaminya selama bertugas dan bisa diambil hikmahnya.
Salah satunya adalah kisah tentang seorang muadzin yang menginggal dunia namun jantungnya masih mengumandangkan adzan. Kisahnya berawal dari percakapan Dr Khalid dengan seorang penasehat Kesehatan Jantung di Pusat Penanganan Penyakit Jantung Amir Sulthan Rumah Sakit Angkatan Bersenjata Riyadh Arab Saudi, Dokter Jasim Al Haditsy.
Dokter Jasim menceritakan bahwa saat temannya bertugas di suatu malam, seorang pasien dinyatakan meninggal dunia. Untuk memastikannya, Dokter yang menjadi teman Dr Jasim itu kemudian memeriksa detak jantung sang pasien dengan stetoskop.
Alangkah terkejut temannya tersebut karena bukan detak jantung yang ia dengar, melainkan sebuah suara adzan.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyahadu Alla Ilaha Illallaah, Asyhadu Alla Ilaha Illallaah”
Ia menduga bahwa mungkin itu adalah suara adzan dari masjid. Namun setelah bertanya kepada perawat, ternyata saat itu pukul satu dini hari. Tentu saja teman dokter Jasim tersebut semakin penasaran dengan apa yang ia dengar tadi di jantung pasien.
Dengan rasa penasarannya tersebut, ia pun kemudian meletakkan kembali stetoskopnya di dada sang pasien dan memang jantungnya bersuara adzan. Merasa heran dengan kejadian tersebut, sang dokter kemudian menanyakan perihal keanehan tersebut kepada pihak keluarga.
Ternyata selama hidup sang pasien merupakan seorang muadzin di sebuah masjid. Ia pun akan datang seperempat jam sebelum adzan berkumandang atau waktu sholat tiba. Tak hanya itu saja, muadzin itu juga merutinkan khataman Qur’an setiap tiga hari sekali dan menjaga lisannya dari perkataan yang salah.
Subhanallah, Allahu Akbar, kejadian yang dialami oleh dokter terbesar benar-benar membukakan matanya bahwa Allah memang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tubuh mayit yang harusnya tidak mampu melakukan apapun, justru bisa mengumandangkan adzan. Bukan dari mulut, melainkan dari jantung.
Memang seperti itulah kehidupan dimana seperti apa ia hidup, maka seperti itu pula ia akan mati.
Laa ilaha illallah..

--
Dikirim dari smartphone OPPO saya

Saturday, January 28, 2017

Kadang Hati Kita Lebih Najis dari Liur Anjing

ABŪ YAZĪD DAN ANJING NAJIS

Abū Yazīd Al-Busthami, termasuk pemimpin ahli haqīqat. Namun siapa sangka beliau pernah mendapat ilmu yang sangat berharga dari seekor anjing.

Seperti biasa, Abū Yazīd suka berjalan sendiri di malam hari. Lalu dia melihat seekor anjing berjalan ke arahnya, anjing itu dengan bersahaja jalan tidak menghiraukan sang syaikh, namun ketika sudah hampir dekat, Al-Busthami mengangkat jubahnya khawatir tersentuh anjing najis itu.

Spontan anjing itu berhenti dan memandangnya. Entah bagaimana, Abū Yazīd seperti mendengar anjing itu berkata padanya, "Tubuhku kering tidak akan menyebabkan najis padamu. Kalau pun engkau merasa terkena najis, engkau tinggal basuh 7 kali dengan air dan tanah, maka najis di tubuhmu itu akan hilang. Namun jika engkau mengangkat jubahmu karena menganggap dirimu yang berbaju badan manusia lebihh mulia, dan menganggap diriku yang berbadan anjing ini najis dan hina, maka najis yg menempel di hatimu itu tidak akan bersih walau kau basuh dengan 7 samudera lautan."

Abū Yazīd tersentak dan minta maaf. Lalu sebagai permohonan maafnya dia mengajak anjing itu untukk bersahabat dan jalan bersama. Tapi si anjing menolaknya.

"Engkau tidak patut berjalan denganku, mereka yang memuliakanmu akan mencemoohmu dan melempari aku dengan batu. Aku tidak tahu mengapa mereka menganggapku begitu hina, padahal aku berserah diri pada sang Pencipta wujud ini. Lihatlah aku juga tidak menyimpan dan membawa sebuah tulang pun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gandum," lalu anjing itu pun berjalan meninggalkan Abū Yazīd.

Abū Yazīd masih terdiam, "Duhai Allah, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-MU saja aku tidak layak, bagaimana aku merasa layak berjalan bersama dengan-MU, ampunilah aku dan sucikan hatiku dari najis."

Sejak itu Abū Yazīd memuliakan dan mengasihi semua mahluk Tuhan tanpa syarat.

"Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." (Q.S. An-Najm : 32)

Jadi muslim yang kaffah bisa

Mugi manfaat

--
Dikirim dari smartphone OPPO saya

Sunday, January 15, 2017

Biarkan Allah Berdzikir dalam Dirimu

cid:content%3A%2F%2Fmedia%2Fexternal%2Asslamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Manusia terbagi menjadi tiga kelompok dalam bertauhid dan berdzikir :

Kelompok pertama, adalah kalangan umum, yaitu kalangan pemula. Maka tauhidnya adalah bersifat lisan (oratif) belaka, baik dalam ungkapan, wacana, akidahnya,
dan keikhlasan, melalui Cahaya Syahadat Tauhid, " Laa Ilaaha Illallah Muhamadur Rasululullah". Ini diklasifikasikan tahap Islam.

Kelompok kedua, kalangan Khusus Menengah, yaitu Tauhid Qalbu, baik dalam apresiasi, kinerja qalbu maupun akidah, serta keikhlasannya. Inilah disebut tahap Iman. Khususul Khusus, yaitu Tauhidnya akal, baik melalui pandangan nyata, yaqin dan penyaksian (musyahadah) kepadaNya. Inilah Tahap Ihsan.Maqomat Dzikir

Dzikir mempunyai tiga tahap (maqomat) :
1. Dzikir melalui Lisan : Yaitu dzikir bagi umumnya makhluk.
2. Dzikir melalui Qalbu : Yaitu dzikir bagi kalangan khusus dari orang beriman.
3. Dzikir melalui Ruh: Yaitu dzikir bagai kalangan lebih khusus, yakni dzikirnya kaum 'arifin melalui fana'nya atas dzikirnya sendiri dan lebih menyaksikan pada Yang Maha Didzikiri serta anugerahnya apada mereka.
Perilaku Dzikir "Allah"

Bagi pendzikir Ismul Mufrad "Allah" ada tiga kondisi ruhani:
Pertama: Kondisi remuk redam dan fana'.
Kedua: Kondisi hidup dan baqo'.
Ketiga: Kondisi nikmat dan ridlo.

Kondisi pertama: Remuk redam dan fana'Yaitu dzikir orang yang membatasi pada dzikir "Allah" saja, bukan Asma-asma lain, yang secara khusus dilakukan pada awal mula penempuhan. Ismul Mufrod tersebut dijadikan sebagai munajatnya, lalu mengokohkan manifestasi "Haa' di dalamnya ketika berdzikir.
Siapa yang mendawamkan (melanggengkannya) maka nuansa lahiriyahnya terfana'kan dan batinnya terhanguskan. Secara lahiriyah ia seperti orang gila, akalnya terhanguskan dan remuk redam, tak satu pun diterima oleh orang. Manusia menghindarinya bahkan ia pun menghindar dari manusia, demi kokohnya remuk redam dirinya sebagai pakaian lahiriahnya. Rahasia Asma "Allah" inilah yang hanya disebut. Bila menyebutkan sifat Uluhiyah, maka tak satu pun manusia mampu menyifatinya. Ia tidak menetapi suatu tempat, yang bisa berhubungan dengan jiwa seseorang, walau di tengah khalayak publik, sebagaimana firman Allah swt :
"Tidak ada lagi pertalian nasab diantara mereka di hari itu dan tidak ada pula saling bertanya." (Al-Mu'minun: 101)
Sedangkan kondisi batinnya seperti mayat yang fana, karena dzat dan sifatnya diam belaka. Diam pula dari segala kecondongan dirinya maupun kebiasaan sehari-harinya, disamping anggota tubuhnya lunglai, hatinya yang tunduk dan khusyu'.
Sebagaimana firmanNya :
"Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat." (Al-Muzammil: 5)
"Dan kamu lihat bumi ini kering, dan apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah, dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumjbuhan yang indah." (Al-Hajj : 5)

Kondisi kedua: Dari kondisi hidup dan abadi (baqo'), yaitu manakala orang yang berdzikir dengan Ismul Mufrod "Allah" tadi mencapai hakikatnya, kokoh dan melunakkan dirinya, maka simbol-simbilny
a dan sifat-sifatnya terhanguskan.
Allah meniupkan Ruh Ridlo setelah "kematian ikhtiar dan hasrat kehendaknya". Ia telah fana' dari hasrat kebiasaan diri dan syahwatnya, dan telah keluar dari sifat-sifat tercelanya, lalu berpindah (transformasi) dari kondisi remuk redam nan fana' menuju kondisi hidup dan baqo'. Kondisi tersebut menimbulkan nuansa kharismatik dan kehebatan dalam semesta, dimana segalanya takut, mengagungkan dan metrasa hina dihadapan hamba itu bahkan semesta meraih berkah kehadirannya.

Kondisi ketiga: Kondisi Nikmat dan Ridlo, maka bagi orang yang mendzikirkan "Allah" pada kondisi ini senantiasa mengagungkan apa pun perintah Allah swt, jiwanya dipenuhi rasa kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah Ta'ala, tidak lagi sembunyi-sembunyi dalam mengajak manusia menuju agama Allah swt. Dari jiwanya terhampar luas bersama Allah swt, hanya bagi Allah swt.
Rahmat Allah swt meliputi keleluasaannya, dan tak satu pun makhluk mempengaruhinya, bahkan tak ada sesuatu yang tersisa kecuali melalui jalan izin Allah swt. Ia telah berpindah dari kondisi ruhani hidup dan baqo', menuju kondisi nikmat dan ridlo, hidup dengan kehidupan yang penuh limpahan nikmat selamanya, mulia, segar dan penuh ridloNya. Tak sedikit pun ada kekeruhan maupun perubahan. Selamat, lurus dan mandiri dalam kondisi ruhaninya, aman dan tenteram.
Sebegitu kokohnya, ia bagaikan hujan deras yang menyirami kegersangan makhluk, dimana pun ia berada, maka tumbuhlah dan suburlah jiwa-jiwa makhluk karenanya. Hingga ia raih kenikmatan dan ridlo bersama Allah Ta'ala, dan Allah pun meridloinya. Allah swt berfirman :
"Kemudian Kami bangkitkan dalam kehidupan makhluk (berbentuk) lain, maka Maha Berkah Allah sebagai Sebagus-bagus Pencipta" (Al-Mu'minun: 14)

Subhanallah